Selamat

Hari itu aku gatau kenapa, Aku selalu teringat, mencari bahkan menunggu. Aku seperti kehilangan, bak kehilangan uang yang lupa menaruhnya dimana, dan berusaha mencari ketempat biasa. Ya.. Seperti itulah aku 7 hari berturut-turut. Aku secara sadar membaca kembali obrolan yg sudah bertahun lalu.. Ada suka, duka, humor dan janji. 

Janji yang dulu kamu bilang, bahwa kita akan pergi jalan-jalan. Kamu bilang waktu itu kamu akan datang hanya untuk sekedar minta izin. 

Aku juga ingat betul, kamu yg bilang bahwa kita akan ashar bersama. Dan aku ingat betul kamu.. yang bilang bahwa, lelaki tidak akan bisa berbicara tentang perasaannya jika ia belum memiliki sesuatu (penghasilan). Dan aku setuju pernyataan itu. Kita juga sama-sama berjanji bila ada seseorang yang datang dalam artian dia lebih baik dari masing-masing kita, maka kita akan saling kabaran. 

Kamu memberi harapan, dan aku menunggu kepastian.

Kita sama-sama mencari jati diri kita masing-masing. Kita sama-sama mencari pekerjaan yang bisa memantaskan diri kita. Namun, kala itu rezeki belum berpihak pada kita, kamu sibuk menghabiskan waktu membantu usaha orangtuamu, dan aku sibuk merawat ibuku yang butuh uluran tanganku. 

Bulan berganti bulan,, kita mulai jarang komunikasian. Bahkan tahun berganti tahun tak ada kabar setelah kalimat itu terucap. 

Aku masih berpikiran positif bahwa kamu masih mencari jati dirimu itu. 

Sampai detik dimana aku seperti kehilangan, aku mencari, aku membuka kembali memori, aku tersenyum, aku merasa alay pada diriku dulu, dan aku merasa sedih. 

Ternyata benar... Setiap perpisahan akan ada tanda-tandanya. Kita mulai asing, seperti tak pernah saling kenal. Ternyata 7 hari terakhir aku mencari keadaanmu, kamu telah menemukan jati dirimu bersamanya. Kedua mata ini jelas melihat tangan yang memasangkan cincin di jari manis seorang perempuan pertanda kamu telah mengikatnya. Wanita itu tersenyum manis dan bahagia. Ternyata wanita itu akan menjadi istrimu, ia terlihat baik dan sholehah. Aku tak mengenalnya. Namun aku sedikit bahagia melihatmu tak salah pilihan. 

Namun disisi lain hatiku sedikit hancur, tanpa sadar air mata mengalir, tubuhku mulai melemah. Inikah jawaban dari penantian itu. Inikah jawaban dari  ribuan kata yg memberi harapan itu?

Bodoh. Bodoh jika aku meratapi ini semua. Aku hampir lupa. Ternyata ini adalah bagian doa yang selalu berbait di setiap sujudku. Aku meminta yang terbaik kepada Allah, dan jelas.. Jawabannya bukan dia. Dia baik, tapi bukan yang terbaik. 

Maaf jika aku pernah menyinggung atau menyakiti perasaanmu, maaf juga karena aku tidak selalu punya waktu untuk kita saling cerita, karena ibuku lebih butuh aku disampingnya kala itu. Terimakasih sudah pernah mendengarkan cerita "randomku.

Jujur aku sedikit kecewa, bukan karena kita gak bisa bersama. Tapi kecewa karena tak ada satu kata pun yang kau ucap bahwa kau telah menemukan jati dirimu bersamanya. Kalo aku tau, aku ga akan menunggu dan berharap selama ini. 

Berbahagialah bersamanya, aku turut bahagia karena kamu menemukan calon ibu untuk anakmu yang jauh lebih sholehah dan taat beragama dariku. Berbahagialah hingga lahir mata indah dari leburan hatimu bersamanya. Berbahagialah sampai anak, cucu,cicit sholeh/ah hadir membersamai keluarga kalian. 

Tentangku... Lupakan saja, anggap saja kita tidak pernah kenal satu sama lain. 

Tentang cerita ini, ini hanyalah sedikit memori yg selalu berputar dipikiranku. Berharap dengan menuangkan nya disini bisa sedikit demi sedikit menghilang. Sampai tak meninggalkan goresan sedikitpun. 

Terimakasih

With Love Ant. 


    Stay with my alls praying






Komentar

Postingan populer dari blog ini